Gus Dur Jadi Guru Bangsa saja
Mungkin sosok Gus Dur yang kita kenal belakangan ini, terutama popularitasnya yg lg anjlok di Indonesia, adalah akibat dari kekuasaan yg pernah dinikmati oleh Gus Dur ketika menjadi presiden, dan ambisinya yg tetap menyala untuk menjadi presiden. Akademisi dari luar tetap menganggap Gus Dur sbg pejuang terdepan toleransi dan Islam damai krn bacaan mereka berasal dari buku-buku ttg Gus Dur, sementara kebanyakan orang awam, khususnya yg sedari dulu tdk suka dgn Gus Dur, lebih melihat Gus Dur secara utuh, baik sosok Gus Dur sbelum jadi presiden, ketika menjadi Presiden dan jatuh atau "dijatuhkan" oleh DPR/MPR krn dicoba diimpeach- oleh Gus Dur, hingga manuver-manuver politiknya di internal PKB.
Inilah mungkin sosok seorang guru bangsa yg krn kekuasaan (power) menjadi ternodai, meskipun setiap orang tetap mengakui bahwa Gus Dur adalah pejuang tulen toleransi dan hak-hak kelompok minoritas. Sebaiknya memang Gus Dur jadi Guru Bangsa saja agar kita tetap bisa belajar kebijaksanaan2 nya.
Memang kekuasaan itu menggoda dan sekaligus mematikan.
--- On Wed, 7/9/08, Syamsul Rijal
From: Syamsul Rijal
Subject: Re: [UIN-makassar] potret terbaru gus dur
To: UIN-makassar@ yahoogroups. com
Date: Wednesday, July 9, 2008, 4:11 AM
Bung Saleh,
Thanks atas postingannya. Saidiman ini masih muda. Asli orang mandar, adik kelas saya dulu di Aliyah Makassar. S1 nya diselesaikan di ciputat, aktivis formaci & paramadina dan produktif menulis
Ndak salah ada buku tentang Gus Dur for Kids. Kira-kira bisa ndak yah pemikiran njelimet Gus Dur itu disederhanakan untuk remaja hehe. Gus Dur memang tidak ada duanya. Kang Jalal pernah cerita di suatu seminar waktu diundang jadi pembicara di Perancis, dia kaget waktu lihat pembicara lain dari Indonesia yang bahasa perancisnya sangat fasih, dan dia itu Gus Dur.
Salam,
--- On Wed, 7/9/08, salehmude
From: salehmude
Subject: [UIN-makassar] potret terbaru gus dur
To: UIN-makassar@ yahoogroups. com
Date: Wednesday, July 9, 2008, 12:28 PM
Salam damai teman2
Tabe, kemarin saya menemukan posting seorang tokoh, pak saidiman
tentang gus dur, seperti tercopikan berikut ini. semoga tidak ada
yang keberatan, terutama mereka yang mungkin sudah lebih dahulu
membacanya atau kurang cocok dengan ide dan sosok gus dur.
tapi, sebelumnya, saya juga memiliki kesan tentang gus dur setelah
membaca buku yang diterbitkan penerbit Tempo, Melawan Melalui
Lelucon, 2000. buku yang diterbitkan ketika gus dur menjadi
presiden.
buku ini cukup menarik, karena diberi kata pengantar oleh syu'bah
asa dan ulil abshar abdalla (presiden jil). syu'bah adalah redaktur
pelaksana majalah tempo ketika itu.
kesan saya terhadap buku itu, menunjukkan potret gus dur, sang
aktivis, yang belum memiliki pekerjaan tetap, tetapi sangat
produktif menulis, kaya ide, imaginasi, dan improvisasi. menurut
syu'bah, hampir setiap hari gus dur menyerahkan satu artikel padahal
tempo terbit sekali sepekan. tulisan itu, juga tidak pernah
dipedulikan mau dipotong/didaur ulang oleh redaksi tempo, terserah.
kenapa gus dur rajin ke pasar proyek senen karena istrinya, shinta
nuriyah bekerja di samping kantor tempo, majalah zaman. setiap sore,
gus dur datang menjemput istrinya, sambil menunggu jam pulang
kantor, gus dur memilih nongkrong di kantor tempo, yang belakangan
disedaiakan meja plus mesin ketik oleh syu'bah atas perintah
goenawan mohammad. gus dur tidak lebih dari 2 jam, menghasilkan lagi
satu buah tulisan, katanya. ide tulisannya sangat beragam mulai
persoalan negara, kolega2nya dari cak nur hingga kiyai2, termasuk kh
ali yafie, sosial-ekonomi, luar negeri, olahraga, hingga nomor dan
jurusan mobil patas blok m-kebayoran baru yang mengambil jurusan
lain ketika hari ahad, ke kwitang karena alasan kejar setoran.
buku ini memuat artikel2/kolom2 gus dur yang pernah dimuat di
majalah tempo, lebih 100 judul.
kini gus dur bukanlah lagi presiden, partainya sedang dirundung
nasib sial dan malang yang tak kunjung rujuk sedangkan jadwal pemilu
legislatif berlomba dengan waktu. gus dur karena faktor
kesehatannya, di samping karena partainya sudah pasti ditolak jadi
capres 2009, padahal semangatnya masih ada. di tv one, eks lativi,
beberapa pekan lalu, saya nonton hasil polling sebuah lembaga riset,
tentang mantan presiden yang paling disebelin dan dibenci oleh
masyarakatnya, pilihan jatuh ke sosok gus dur. sekitar tahun lalu,
saya juga dengar unek2 dari seorang tokoh asal sulse yang kini
menjadi orang penting di bumn. dia bilang, dirinya merasa senang
karena dituding gus dur korupsi. alasannya, semua orang yang pernah
dituduh/difitnah gus dur pasti jadi tokoh kalau belum jadi tokoh.
pak jk yang kini wapres juga pernah dipecat menteri oleh gus dur
karena dituding korupsi.
tahun 1997, harian republika (yang kni sekarat)-yang konon segera
(bulan agustus)meluncurkan berita mega portal on line, memuat berita
dari jombang, markaz gus dur, konon di sana, jika gus dur datang
hampir semua hadirin berusaha cipiki dan cipika (cium pipi kiri dan
kanan), kalau tidak kesampaian, maka mobil yang ditumpangi gus dur
pun jadi tumbal yang dicium jemaah di sana, luar biasa. saya juga
pernah tanya teman kuliah 2001,yang kebetulan maniak gus dur,
tentang berita; di setiap seminar, gus dur lebih memilih tidur
daripada mendengar materi pembicara lain, tapi begitu pertanyaan
diajukan, semuanya dijawab. kasus ini saya masih sangsi. termasuk
anggapan bahwa gus dur itu masih kategori wali, wah saya belum
pernah yakin, apa syaratnya jadi wali sudah dimiliki gus dur, pak
moderator? dalam pada kesempatan lain, pak hafid abbas menceritakan
kenapa gus dur suka sekali terbang, naik pesawat, ratusan negara
dan puluhan benua dikunjunginya, karena gus dur lebih senang tidur
di atas pesawat. versi lain, menurut presenter metro tivi, andy f
nonya, ini dimanfaatkan oleh gus dur sebagai sebagai sebuah
kesempatan dalam kesempitan, kick andy, ahad 6 juli kemarin.
tentu masih banyak lagi kalimat yang sangat mudah tertuang demi
membahasakan potret gus dur dari teman2, karena gus dur termasuk
sosok yang pernah fenomenal (sekarang tidak lagi?)dia mungkin
menjadi tokoh ketiga setelah soekarno dan soeharto yang paling
banyak ditulis oleh penulis domestik dan asing.
Tabe, saya posting ulang tulisan pak saidiman tentang gus dur.
sm
Abdurrahman Wahid
Ada yang menarik dari konferensi tahunan ketujuh yang diadakan oleh
Globalization for the Common Good, From the Middle East to Asia
Facific: Arc of Conflict or Dialogue of Cultures and Religions?, 30
Juni – 3 Juli 2008, di Melbourne, Australia. Para peserta dan
pembicara yang berasal dari universitas- universitas terkemuka
pelbagai Negara ini hampir selalu menyebut nama mantan presiden
Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sebagai contoh
ideal pemuka agama tradisional yang begitu gigih memperjuangkan
semangat toleransi dan perdamaian.
Prof. Muddathir Abdel-Rahim (International Institute of Islamic
Thought and Civilization, Malaysia) menunjuk Gus Dur sebagai sosok
yang berhasil membalik prasangka banyak kalangan tentang wajah Islam
yang cenderung dipersepsi tidak ramah terhadap isu-isu toleransi dan
perdamaian. Prof. Abdullah Saeed (The University of Melbourne) juga
mengakui posisi penting Gus Dur dalam upaya kontekstualisasi nilai-
nilai universal al-Qur'an. Dr. Natalie Mobini Kesheh (Australian
Baha'i Community) mengatakan bahwa satu-satunya pemimpin Islam
dunia yang begitu akomodatif terhadap komunitas Baha'i adalah Gus
Dur. Prof. James Haire (Charles Stuart University, New South Wales)
berkali-kali memberi pujian kepada Gus Dur yang ia nilai paling
gigih dalam memberi perlindungan terhadap kelompok minoritas.
Sementara Dr. Larry Marshal (La Trobe University, Australia)
menyebut Gus Dur sebagai pemikir cemerlang yang memiliki pandangan
luas. Marshal bahkan sangsi Indonesia bisa melahirkan pemikir-
aktivis seperti Gus Dur dalam jangka waktu seratus tahun ke depan.
Apresiasi dan pujian dari masyarakat intelektual dunia ini bukan
sekali ini saja. Gus Dur kerapkali menerima sejumlah penghargaan
dari banyak lembaga internasional yang bersimpati terhadap
perjuangannya selama ini.
Apresiasi semacam itu justru agak berbeda dengan situasi mutakhir di
Indonesia. Belakangan ini Gus Dur tampak sedang berada pada fase-
fase yang cukup sulit. Setelah tersingkir dari jabatan struktural
Nahdlatul Ulama (NU), diganti oleh bekas loyalisnya, Hasyim Muzadi,
kini Gus Dur harus menghadapi tekanan politik dari kemenakannya,
Muhaimin Iskandar, di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Musuh-musuh
ideologisnya bahkan secara terang-terangan berani memperolok-olok
mantan presiden ini di depan publik. Pada sebuah acara talk show di
sebuah stasiun televisi, Rizieq Shihab menyebut Gus Dur "buta
mata, buta hati." Olok-olok dan penghinaan ini kemudian diikuti
oleh pengikut-pengikut Rizieq di pelbagai daerah yang tanpa sungkan
membawa poster olok-olok tersebut ke jalan-jalan.
Gus Dur tidak hanya menuai tantangan dari musuh-musuh politik dan
ideologisnya. Madina, sebuah majalah yang dikenal moderat dan
kerap kali menampilkan gagasan-gagasan pembaruan Islam, tidak
menyebut namanya dalam daftar 25 tokoh Islam damai di Indonesia. Gus
Dur tersingkir dari nama-nama beken seperti Abdullah Gymnastiar,
Arifin Ilham, atau Helfy Tiana Rosa. Bahkan di kalangan kelompok
moderat Indonesia sekalipun, Gus Dur tak jarang terabaikan.
Meski begitu, apa yang terjadi pada konferensi Melbourne dan forum-
forum internasional lain bukan sekadar apresiasi dan pujian,
melainkan harapan. Gus Dur dianggap sebagai harapan bagi masa depan
perdamaian di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya. Melalui
aktivitas pembelaan terhadap kelompok pinggiran, Gus Dur telah
memberi bukti bahwa Islam juga punya semangat toleransi dan
perdamaian, bahkan dalam bentuk yang paling tradisional sekalipun.
Posisi Gus Dur sebagai politisi dan pejuang HAM sekaligus adalah
sesuatu yang memang langka. Dan kemampuannya melakukan pembedaan
secara jernih mengenai posisinya itu adalah sesuatu yang
mengagumkan. Perjuangannya untuk tetap membela hak-hak minoritas tak
pernah surut kendati tampak tidak menguntungkan secara politik.
Ketika kebanyakan politisi angkat tangan dan bungkam terhadap kasus
minoritas Ahmadiyah, Gus Dur justru tampil di garda depan sebagai
pembela hak-haknya. Bagi Gus Dur, adalah hak pengikut Ahmadiyah
untuk hidup sebagaimana rakyat Indonesia pada umumnya. Jaminannya
adalah Konstitusi. Perkataan Gus Dur dalam sebuah konferensi pers
mungkin akan sulit dilupakan para pejuang HAM dan demokrasi:
"Selama saya masih hidup, saya akan tetap membela keberadaan
Jemaat Ahmadiyah, karena itu sesuai dengan amanat Konstitusi."
Bagi Gus Dur, hak hidup semua orang dengan latar belakang primordial
apapun adalah harga mati.
Barangkali memang Gus Dur tidak sedang berada pada waktu dan tempat
yang tepat. Aktivitas dan pemikirannya terlalu jauh meninggalkan
zamannya. Hanya masyarakat maju dan tercerahkan yang bisa
mengapresiasi perjuangannya. Ketika Gus Dur berjibaku dengan isu-isu
perdamaian bagi negeri tercinta, antusiasme masyarakat Indonesia
terhadap gagasan-gagasannya justru melemah. Dalam pelbagai survey
opini public, suara Gus Dur malah anjlok ke titik terendah. Jika di
dalam negeri Gus Dur dicaci dan direndahkan, untuk masyarakat
internasional pecinta perdamaian, Gus Dur adalah pemimpin.
Saidiman
0 komentar:
Posting Komentar