Sabtu, 12 Juli 2008

Gus Dur Jadi Guru Bangsa saja

Mungkin sosok Gus Dur yang kita kenal belakangan ini, terutama popularitasnya yg lg anjlok di Indonesia, adalah akibat dari kekuasaan yg pernah dinikmati oleh Gus Dur ketika menjadi presiden, dan ambisinya yg tetap menyala untuk menjadi presiden. Akademisi dari luar tetap menganggap Gus Dur sbg pejuang terdepan toleransi dan Islam damai krn bacaan mereka berasal dari buku-buku ttg Gus Dur, sementara kebanyakan orang awam, khususnya yg sedari dulu tdk suka dgn Gus Dur, lebih melihat Gus Dur secara utuh, baik sosok Gus Dur sbelum jadi presiden, ketika menjadi Presiden dan jatuh atau "dijatuhkan" oleh DPR/MPR krn dicoba diimpeach- oleh Gus Dur, hingga manuver-manuver politiknya di internal PKB.
Inilah mungkin sosok seorang guru bangsa yg krn kekuasaan (power) menjadi ternodai, meskipun setiap orang tetap mengakui bahwa Gus Dur adalah pejuang tulen toleransi dan hak-hak kelompok minoritas. Sebaiknya memang Gus Dur jadi Guru Bangsa saja agar kita tetap bisa belajar kebijaksanaan2 nya.
Memang kekuasaan itu menggoda dan sekaligus mematikan.


--- On Wed, 7/9/08, Syamsul Rijal wrote:

From: Syamsul Rijal
Subject: Re: [UIN-makassar] potret terbaru gus dur
To: UIN-makassar@ yahoogroups. com
Date: Wednesday, July 9, 2008, 4:11 AM

Bung Saleh,

Thanks atas postingannya. Saidiman ini masih muda. Asli orang mandar, adik kelas saya dulu di Aliyah Makassar. S1 nya diselesaikan di ciputat, aktivis formaci & paramadina dan produktif menulis

Ndak salah ada buku tentang Gus Dur for Kids. Kira-kira bisa ndak yah pemikiran njelimet Gus Dur itu disederhanakan untuk remaja hehe. Gus Dur memang tidak ada duanya. Kang Jalal pernah cerita di suatu seminar waktu diundang jadi pembicara di Perancis, dia kaget waktu lihat pembicara lain dari Indonesia yang bahasa perancisnya sangat fasih, dan dia itu Gus Dur.

Salam,

--- On Wed, 7/9/08, salehmude wrote:

From: salehmude
Subject: [UIN-makassar] potret terbaru gus dur
To: UIN-makassar@ yahoogroups. com
Date: Wednesday, July 9, 2008, 12:28 PM


Salam damai teman2

Tabe, kemarin saya menemukan posting seorang tokoh, pak saidiman
tentang gus dur, seperti tercopikan berikut ini. semoga tidak ada
yang keberatan, terutama mereka yang mungkin sudah lebih dahulu
membacanya atau kurang cocok dengan ide dan sosok gus dur.

tapi, sebelumnya, saya juga memiliki kesan tentang gus dur setelah
membaca buku yang diterbitkan penerbit Tempo, Melawan Melalui
Lelucon, 2000. buku yang diterbitkan ketika gus dur menjadi
presiden.

buku ini cukup menarik, karena diberi kata pengantar oleh syu'bah
asa dan ulil abshar abdalla (presiden jil). syu'bah adalah redaktur
pelaksana majalah tempo ketika itu.

kesan saya terhadap buku itu, menunjukkan potret gus dur, sang
aktivis, yang belum memiliki pekerjaan tetap, tetapi sangat
produktif menulis, kaya ide, imaginasi, dan improvisasi. menurut
syu'bah, hampir setiap hari gus dur menyerahkan satu artikel padahal
tempo terbit sekali sepekan. tulisan itu, juga tidak pernah
dipedulikan mau dipotong/didaur ulang oleh redaksi tempo, terserah.
kenapa gus dur rajin ke pasar proyek senen karena istrinya, shinta
nuriyah bekerja di samping kantor tempo, majalah zaman. setiap sore,
gus dur datang menjemput istrinya, sambil menunggu jam pulang
kantor, gus dur memilih nongkrong di kantor tempo, yang belakangan
disedaiakan meja plus mesin ketik oleh syu'bah atas perintah
goenawan mohammad. gus dur tidak lebih dari 2 jam, menghasilkan lagi
satu buah tulisan, katanya. ide tulisannya sangat beragam mulai
persoalan negara, kolega2nya dari cak nur hingga kiyai2, termasuk kh
ali yafie, sosial-ekonomi, luar negeri, olahraga, hingga nomor dan
jurusan mobil patas blok m-kebayoran baru yang mengambil jurusan
lain ketika hari ahad, ke kwitang karena alasan kejar setoran.

buku ini memuat artikel2/kolom2 gus dur yang pernah dimuat di
majalah tempo, lebih 100 judul.

kini gus dur bukanlah lagi presiden, partainya sedang dirundung
nasib sial dan malang yang tak kunjung rujuk sedangkan jadwal pemilu
legislatif berlomba dengan waktu. gus dur karena faktor
kesehatannya, di samping karena partainya sudah pasti ditolak jadi
capres 2009, padahal semangatnya masih ada. di tv one, eks lativi,
beberapa pekan lalu, saya nonton hasil polling sebuah lembaga riset,
tentang mantan presiden yang paling disebelin dan dibenci oleh
masyarakatnya, pilihan jatuh ke sosok gus dur. sekitar tahun lalu,
saya juga dengar unek2 dari seorang tokoh asal sulse yang kini
menjadi orang penting di bumn. dia bilang, dirinya merasa senang
karena dituding gus dur korupsi. alasannya, semua orang yang pernah
dituduh/difitnah gus dur pasti jadi tokoh kalau belum jadi tokoh.
pak jk yang kini wapres juga pernah dipecat menteri oleh gus dur
karena dituding korupsi.

tahun 1997, harian republika (yang kni sekarat)-yang konon segera
(bulan agustus)meluncurkan berita mega portal on line, memuat berita
dari jombang, markaz gus dur, konon di sana, jika gus dur datang
hampir semua hadirin berusaha cipiki dan cipika (cium pipi kiri dan
kanan), kalau tidak kesampaian, maka mobil yang ditumpangi gus dur
pun jadi tumbal yang dicium jemaah di sana, luar biasa. saya juga
pernah tanya teman kuliah 2001,yang kebetulan maniak gus dur,
tentang berita; di setiap seminar, gus dur lebih memilih tidur
daripada mendengar materi pembicara lain, tapi begitu pertanyaan
diajukan, semuanya dijawab. kasus ini saya masih sangsi. termasuk
anggapan bahwa gus dur itu masih kategori wali, wah saya belum
pernah yakin, apa syaratnya jadi wali sudah dimiliki gus dur, pak
moderator? dalam pada kesempatan lain, pak hafid abbas menceritakan
kenapa gus dur suka sekali terbang, naik pesawat, ratusan negara
dan puluhan benua dikunjunginya, karena gus dur lebih senang tidur
di atas pesawat. versi lain, menurut presenter metro tivi, andy f
nonya, ini dimanfaatkan oleh gus dur sebagai sebagai sebuah
kesempatan dalam kesempitan, kick andy, ahad 6 juli kemarin.

tentu masih banyak lagi kalimat yang sangat mudah tertuang demi
membahasakan potret gus dur dari teman2, karena gus dur termasuk
sosok yang pernah fenomenal (sekarang tidak lagi?)dia mungkin
menjadi tokoh ketiga setelah soekarno dan soeharto yang paling
banyak ditulis oleh penulis domestik dan asing.

Tabe, saya posting ulang tulisan pak saidiman tentang gus dur.

sm


Abdurrahman Wahid

Ada yang menarik dari konferensi tahunan ketujuh yang diadakan oleh
Globalization for the Common Good, From the Middle East to Asia
Facific: Arc of Conflict or Dialogue of Cultures and Religions?, 30
Juni – 3 Juli 2008, di Melbourne, Australia. Para peserta dan
pembicara yang berasal dari universitas- universitas terkemuka
pelbagai Negara ini hampir selalu menyebut nama mantan presiden
Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sebagai contoh
ideal pemuka agama tradisional yang begitu gigih memperjuangkan
semangat toleransi dan perdamaian.

Prof. Muddathir Abdel-Rahim (International Institute of Islamic
Thought and Civilization, Malaysia) menunjuk Gus Dur sebagai sosok
yang berhasil membalik prasangka banyak kalangan tentang wajah Islam
yang cenderung dipersepsi tidak ramah terhadap isu-isu toleransi dan
perdamaian. Prof. Abdullah Saeed (The University of Melbourne) juga
mengakui posisi penting Gus Dur dalam upaya kontekstualisasi nilai-
nilai universal al-Qur'an. Dr. Natalie Mobini Kesheh (Australian
Baha'i Community) mengatakan bahwa satu-satunya pemimpin Islam
dunia yang begitu akomodatif terhadap komunitas Baha'i adalah Gus
Dur. Prof. James Haire (Charles Stuart University, New South Wales)
berkali-kali memberi pujian kepada Gus Dur yang ia nilai paling
gigih dalam memberi perlindungan terhadap kelompok minoritas.
Sementara Dr. Larry Marshal (La Trobe University, Australia)
menyebut Gus Dur sebagai pemikir cemerlang yang memiliki pandangan
luas. Marshal bahkan sangsi Indonesia bisa melahirkan pemikir-
aktivis seperti Gus Dur dalam jangka waktu seratus tahun ke depan.

Apresiasi dan pujian dari masyarakat intelektual dunia ini bukan
sekali ini saja. Gus Dur kerapkali menerima sejumlah penghargaan
dari banyak lembaga internasional yang bersimpati terhadap
perjuangannya selama ini.

Apresiasi semacam itu justru agak berbeda dengan situasi mutakhir di
Indonesia. Belakangan ini Gus Dur tampak sedang berada pada fase-
fase yang cukup sulit. Setelah tersingkir dari jabatan struktural
Nahdlatul Ulama (NU), diganti oleh bekas loyalisnya, Hasyim Muzadi,
kini Gus Dur harus menghadapi tekanan politik dari kemenakannya,
Muhaimin Iskandar, di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Musuh-musuh
ideologisnya bahkan secara terang-terangan berani memperolok-olok
mantan presiden ini di depan publik. Pada sebuah acara talk show di
sebuah stasiun televisi, Rizieq Shihab menyebut Gus Dur "buta
mata, buta hati." Olok-olok dan penghinaan ini kemudian diikuti
oleh pengikut-pengikut Rizieq di pelbagai daerah yang tanpa sungkan
membawa poster olok-olok tersebut ke jalan-jalan.

Gus Dur tidak hanya menuai tantangan dari musuh-musuh politik dan
ideologisnya. Madina, sebuah majalah yang dikenal moderat dan
kerap kali menampilkan gagasan-gagasan pembaruan Islam, tidak
menyebut namanya dalam daftar 25 tokoh Islam damai di Indonesia. Gus
Dur tersingkir dari nama-nama beken seperti Abdullah Gymnastiar,
Arifin Ilham, atau Helfy Tiana Rosa. Bahkan di kalangan kelompok
moderat Indonesia sekalipun, Gus Dur tak jarang terabaikan.

Meski begitu, apa yang terjadi pada konferensi Melbourne dan forum-
forum internasional lain bukan sekadar apresiasi dan pujian,
melainkan harapan. Gus Dur dianggap sebagai harapan bagi masa depan
perdamaian di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya. Melalui
aktivitas pembelaan terhadap kelompok pinggiran, Gus Dur telah
memberi bukti bahwa Islam juga punya semangat toleransi dan
perdamaian, bahkan dalam bentuk yang paling tradisional sekalipun.

Posisi Gus Dur sebagai politisi dan pejuang HAM sekaligus adalah
sesuatu yang memang langka. Dan kemampuannya melakukan pembedaan
secara jernih mengenai posisinya itu adalah sesuatu yang
mengagumkan. Perjuangannya untuk tetap membela hak-hak minoritas tak
pernah surut kendati tampak tidak menguntungkan secara politik.
Ketika kebanyakan politisi angkat tangan dan bungkam terhadap kasus
minoritas Ahmadiyah, Gus Dur justru tampil di garda depan sebagai
pembela hak-haknya. Bagi Gus Dur, adalah hak pengikut Ahmadiyah
untuk hidup sebagaimana rakyat Indonesia pada umumnya. Jaminannya
adalah Konstitusi. Perkataan Gus Dur dalam sebuah konferensi pers
mungkin akan sulit dilupakan para pejuang HAM dan demokrasi:
"Selama saya masih hidup, saya akan tetap membela keberadaan
Jemaat Ahmadiyah, karena itu sesuai dengan amanat Konstitusi."
Bagi Gus Dur, hak hidup semua orang dengan latar belakang primordial
apapun adalah harga mati.

Barangkali memang Gus Dur tidak sedang berada pada waktu dan tempat
yang tepat. Aktivitas dan pemikirannya terlalu jauh meninggalkan
zamannya. Hanya masyarakat maju dan tercerahkan yang bisa
mengapresiasi perjuangannya. Ketika Gus Dur berjibaku dengan isu-isu
perdamaian bagi negeri tercinta, antusiasme masyarakat Indonesia
terhadap gagasan-gagasannya justru melemah. Dalam pelbagai survey
opini public, suara Gus Dur malah anjlok ke titik terendah. Jika di
dalam negeri Gus Dur dicaci dan direndahkan, untuk masyarakat
internasional pecinta perdamaian, Gus Dur adalah pemimpin.

Saidiman

Read More......

Republika yang lg oleng, dan mau karam

Saya sementara ini lagi berlangganan dgn Republika karena butuh data yg banyak ttg laporan perkembangan bank syariah di Indonesia yg memang Republika punya kolom khusus untuk itu. Jadi bukan karena fanatisme buta ingin memajukan koran "Islam" ini dgn terus berlangganan, tapi lebih kepada alasan teknis semata (bahan untk disertasi cess). Berita ttg bank Islam bisa pula ditemui di koran lain, Kompas misalnya, tapi liputannya sangat dangkal dgn ukuran kolom yg sangat kecil dan berada di halaman yg ke sekian. Isi beritanya pun terkadang lebih merujuk kepada kegagalannnya dibanding kesuksesannya. Saya tidak punya banyak data ttg apakah karena Kompas itu korannya orang nasrani (Katolik) sehingga liputannya ttg dunia Islam dan perkembangan kaum Muslim Indo dan dunia agak kurang gregetnya. Yang jelas kalau saya ingin data ttg bagaimana sejarah keemasan masa lalu Islam melalui ilmuwan-ilmuwannya yg menggegerkan dunia, tausiyah-tausiyah yang menyejukkan dari orang-orang bijak dan resonansi Azyumardi Azra ttg perkembangan dunia Islam masa kini, maka Republikalah tempatnya. Sesuatu yg tdk mungkin saya dapatkan di koran lain. Tentunya pembacaan saya melalui proses filter dan tafsir ulang sesuai dgn hasil bacaan saya juga. Seorang Doktor di UI namanya Ibnu Hamad, pernah melakukan studi komparasi dgn analisis wacana terhadap isi koran the Washington Post dengan New York Times. Salah satu temuannya adalah kedua koran tsb berbeda dalam hal membuat tajuk, headline, posisi foto di halaman muka, dan menyebutkan jumlah korban pd sebuah peristiwa. Salah satu sebabnya, kata Ibnu Hamad ini karena perbedaan ideologi yg melatari kedua koran tsb. Dari hasil temuan riset ini, kita jadi teringat bagaimana pemberitaan 11 Sept, dgn ambruknya The World Trade Centre dilakukan secara tdk bertanggungjawab oleh CNN dgn mengkorelasikan peristiwa tersebut dgn pesta jalanan di salah satu jalan di Kota Palestina. Seakan-akan pemboman gedung kembar di Amerika tsb didukung dgn gegap gempita oleh rakyat Muslim Palestina. Padahal belakangan gambar pesta jalanan itu adalah hasil rekayasa. Bagusnya, ini kemudian diakui oleh redaksi CNN sebagai sebuah kesalahan dan meminta maaf kepada warga Palestina. Secara teoritis, Michael Foucalt, yg digunakan konsepnya oleh Edward Said ketika menulis Orientalism, mengingatkan kita semua bahwa teks itu tdk berdiri sendiri tapi terdapat sebuah ideologi yg berada dibelakangnya. Artinya lahirnya sebuah teks itu tidak berada pada ruang dan waktu yg hampa.
Tapi ulasan saya ini mungkin terlalu jauh untuk menganalogkan Kompas dgn Republika, diperlukan studi lbh mendalam untuk ini. Untuk saat ini, marilah kita tetap menganggap Kompas, misalnya, sebagai koran nasional yang berada diatas semua kelompok, minimal dalam pemberitaannya ttg masalah nasional.
Mengenai pengalaman bung Wahyu yg lebih banyak tdk enaknya dibanding enaknya ketika berlanggann dgn Republika, kerap juga saya alami. Tapi itu tadi, saya masih lebih banyak butuhnya dibanding tdknya dgn Republika. Lagi pula, saya terkesan dengan pendapat salah satu tokoh Islam yg ketika mendengarkan keluhan saya terhadap Republika ini dia berujar bahwa kalau memang saya punya ide yg brilian ttg bagaimana media yg bagus maka sebaiknya anda bergabung dgn media itu, rebut pemegang saham mayoritasnya dan posisi pemrednya setelah itu buktikan bagaimana memenej sebuah media secara profesional. "Sekolahlah jurnalistik ke luar negeri dan ketika pulang bergabung lah dengan media Islam, dan majukan media Islam". Seruan salah satu tokoh Islam, yg tdk perlu sy sebutkan namanya ini, adalah lazim dalam kelompok agama manapun, yaitu sebuah fanatisme dan militansi dalam membela kelompoknya. Hal yg sama pula terdapat pada salah satu prinsip klasik dalam politik yaitu: "right or wrong is my party".Tidak peduli apa kata orang ttg party (kelompok) saya, yg penting di hati saya tetap satu, Islam.
Selain itu, Dakwah memang sifatnya menyeru orang untuk datang, itu mungkin terjemahan bebasnya. Tidak peduli apakah orang itu senang atau tdk dgn seruan tsb. Apakah dgn pakai speaker orang yg lagi mau tidur subuh terganggu, peduli amat, yg penting perintah agama untuk membangunkan orang yg lg tidur sdh dijalankan (tentunya ini tafsir literal). Sama halnya dgn misi zending dlm Kristen, hal yg sama saya sering alami ketika menetap di Canberra, kadang tdk kenal waktu dan tempat, para misionaris dari sebuah sekte dgn tdk kenal lelah menggunakan segala cara untuk membujuk saya datang ke kebaktian gerejanya. Karena tdk berhasil, mereka lalu mengumpat dan mengejek-ngejek agama saya sebagai agama barbar dan tdk peduli pada orang miskin. Tapi itu saya tanggapi dgn dingin, karena saya anggap itulah kira2 karakter orang yg bergelut di dunia misi (dakwah dlm istilah kita). Di dalam agama kita memang banyak kelompok-kelompok dakwah dari yg lunak misalnya Jama'ah Tabigh, sampai yg sangat kasar seperti FPI, misalnya. Tapi itu tadi, karakter dan bawaannya memang begitu, cenderung dogmatis, hitam putih, tdk ada kompromi, karena mereka yakin kalau yg mereka perjuangkan adalah perintah Allah, dan jika perjuangan mereka di dunia tdk berhasil, Allah sudah menjanjikan surga kelak di Akhirat.
Tentunya hasil analisa saya ini masih dalam kerangka hasil temuan sementara saya dalam beberapa kali melakukan penelitian ttg kelompok Islam di Indonesia. Tafsir ttg Kitab Suci dan tipe pergerakan mereka dalam membawa nama Islam memang terkadang tdk bisa diterima oleh "kita" yg sering dikelompokkan akademisi, yg sering bergelut dgn tulisan, berdiskusi, berseminar, berwacana dsb. Apalagi saat ini memang pengkategorian ummat Islam sudah sangat simplistis; mereka yg memperjuangkan penerapan syariat Islam (apakah itu politik, dsb) cenderung dicap fundamentalist, sedangkan mereka yg hanya menerima sistem demokrasi liberal tanpa embel-embel Islam buru-buru dituduh Islam Liberal. Sehingga ketika kedua kelompok ini beraksi, maka hadirin sudah mafhum adanya. Kedua kategori Islam ini juga sudah punya jargon masing-masing dan sudah sulit untuk dipersatukan, ketika bertemu pun lebih banyak jalan buntunya. Bagi saya, keduanya juga seakan-akan sudah keluar dari akar tradisi keagamaannya masing-masing (Baca posting bung Wahyu ttg wawancara Ulil yg merasakan tafsir agamannya sudah beyond ke NU-annya). Intinya, kedua kelompok ini sudah melewati konflik antara NU Muhammadiyah di masa pergerakan. Bung Rijal dan teman2 yg lagi studi di LN saat ini, terutama yg mengambil topik ttg gerakan Islam kontemporer, kita tunggu studi anda semua dalam membaca ini. Maaf kepanjangan dan kemana2.

Adlin


--- On Sun, 7/6/08, Wahyuddin Halim wrote:

From: Wahyuddin Halim
Subject: Re: [UIN-makassar] 2 contoh kasus umat
To: UIN-makassar@ yahoogroups. com
Date: Sunday, July 6, 2008, 4:49 PM

Bung Saleh dan Rijal,

Di Indonesia, di antara alasan pengurus masjid mengeraskan dan menggelegarkan soundsystem masjid mereka dengan qiraah dan tilawah Qur'an adalah supaya orang-orang yang malas pergi salat jamaah ke masjid bisa tergugah hatinya atau orang-orang non-Muslim yang tinggal di sekitar masjid bisa terkesima dengan bacaan Qur'an lalu, seperti Umar bin Khattab, masuk Islam karenanya. Tentang ini saya pernah menulis sebuah opini di sebuah koran lokal bertajuk, "Masjid yang Mengusik Ramadhan Itu".

Saya katakan bahwa tujuan seperti itu sulit tercapai karena, berbeda dengan Umar yang orang 'Arab dan sangat mengerti kompleksitas dan keindahan bahasa Arab, sangat sedikit orang Indonesia bisa mengerti bahasa Arab dan mampu mengapresiasi nilai estetik dan kesusastraan Qur'an. Malah, lanjut saya, orang2 Muslim dan non-Muslim bisa saja malah semakin membenci masjid karena dalam 5 waktu dalam 24 jam, mereka akan terganggu "nyanyian" aneh yang memekakkan telinga mereka, apalagi jika lagu2 dari qari'/'ah yg disetel masjid tidak begitu menarik dan membosankan karena tidak ada variasi, misalnya Abdurrahman al-Sudaysi, Imam Masjid Haram itu.

Dalam tulisan itu, saya malah mengusulkan agar, selama kerja bakti di hari Minggu, para pengurus masjid tidak hanya menyetel tilawah Quran dan nasid2 dari Haddad Alwi/Sulis, tapi juga musik-musik universal yang lebih menenangkan jiwa orang2 tanpa memandang agama mereka, misalnya: musik2 klasik zaman barok gubahan Mozart, Beethoven, Bach, Vivaldi, dll, atau instrumental spt Kitaro, Kenny G, dsj. Jadi, barangkali, aspek kemukjizatan Al-Quran dari segi keindahan sastrawi bahasa Arabnya harus dipandang hanya efektif dlm konteks masyarakat pengguna bahasa Arab (khususnya dalam masyarakat di jazirah Arabia di zaman menjelang dan saat kenabian Muhammad saw, ketika dunia kepenyairan Arab merefleksikan ketinggian pencapaiannya, saat ketika setiap tantangan terhadapnya merupakan sebuah keajaiban). Tapi, dalam sebuah zaman yang ditandai dengan keajaiban2 capaian ilmu pengetahuan dan teknologi, yang akan dipandang mukjizati dari Al-Quran mungkin adalah pesan-pesannya yang menyemangati umat manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan atau "tafsir" atas ayat-ayatnya yang mengkonfirmasi kebenaran2 ilmiah mutakhir atau bahkan mengantisipasi kebenaran teoritis ilmu pengetahuan. Ini bisa diperluas hingga ke konteks keunggulan pencapaian zaman2 yang berbeda, di mana Al-Quran selalu bisa menjadi "penantang" dan pengimbang bagi capaian2 itu: filsafat, etika, resep2 praktis kehidupan/how- to, teori2 kesehatan, ramalan2, dll.

Tentang Republika, selain alasan2 yang dikemukakan Ijal di bawah (variasi rubrik, variasi paradigma keislaman, dll), saya juga melanggani versi cetak Kompas sejauh ini karena managemen distribusinya yang lancar. Mungkin karena memang sudah menggunakan sistem cetak jarak jauh, sehingga sebelum jam 6 pagi, koran tsb sdh tergeletak di teras rumah saya. Sementara pengalaman saya berlangganan Republika sekitar 7 tahunan lalu lebih banyak menjengkelkan dalam hal distribusi ini

Selain itu, kreativitas dan profesionalisme redaksional Republika juga seringkali payah, banyak tulisan yang sekedar disadur dari ensiklopedi, buku, majalah, dsb. Liputannya juga kadang2 lebih sering tentang soal2 dunia Islam yang tidak begitu berkaitan dengan kita, sementara isu2 keislaman lokal jarang diliput. Tokoh2 Muslim abad pertengahan Islam lebih sering menonjol profilnya ketimbang tokoh2 Muslim nusantara, padahal kedua2nya kita perlukan.

Nah, Kompas? Saya kira membaca Kompas hampir sama dengan membaca sebuah buku setebal 100 halaman per hari. Ruang opininya saja sampai 4 halaman penuh, kadang lebih dg rubrik2 yang berbeda. Belum lagi edisi pustaka teroka yang rata2 dua halaman. Tentang fakta bahwa Kompas milik non-Muslim saya kira itu bukan masalah sama sekali. Nabi tidak pernah menganjurkan seorang Muslim hanya bertransaksi secara ekonomi dengan sesama Muslim bukan? Bahkan dalam hal mencari ilmu, kita dianjurkan bahkan melanglang ke negeri Cina.

Persoalannya di sini, siapa yang Islami dan tidak Islami. Trust, amanah, adalah nilai etika Islam yang sangat penting dijaga dlm transaksi ekonomi. Nah, kita tentu seringkali kecewa dengan tingkat trust yang sangat rendah orang2 Muslim yang menjadi mitra dagang kita, bukan? Jadi dari segitu itu saja, banyak orang Muslim yang tidak "Islami".

Begitu juga dalam hal pemberitaan, media2 yang mengklaim diri Media Muslim/Islam seringkali mengekploitasi isu-isu yang sebenarnya tidak faktual, tidak berdasar, tapi sekedar gossip murahan atau zhann, malah seringkali fitnah. Redaktur2nya tampak malas sekali melakukan investigasi yang mendalam dan berimbang sebelum memuat sebuah berita atau liputan utama. Nah, benar perusahan2 media itu memang milik orang Muslim, tapi ia tidak merefleksikan nilai-nilai Islam yang substantif (hanya simbolik) dan cenderung tidak mencerdaskan (lebih sering memancing amarah terhadap kelompok lain). Jadi, kematian Republika, kalau pun itu terjadi dan harus ditangisi tidak perlu sampai meraung-raung.

Kira2 begitu yang terlintas dalam benar....

Salam dari Bukit Tinggimae,
WH









--- On Sun, 7/6/08, Syamsul Rijal wrote:

From: Syamsul Rijal
Subject: Re: [UIN-makassar] 2 contoh kasus umat
To: UIN-makassar@ yahoogroups. com
Date: Sunday, July 6, 2008, 5:23 PM


Bang Shaleh,

Kalau dengar puisi dan lagu religius (apalagi berbahasa Indonesia) tentu lebih enak dan bisa lebih difahami ketimbang al-Qur'an yang berbahasa Arab. Toh juga pesan-pesan dari lagu dan puisi tersebut diserap dari al-Qur'an. Kalau anak sastra arab dan jebolan pesantren mungkin lebih senang barangkali al-Qur'an hehe. Pernyataan Syafii Maarif juga bisa dibalik, kalau keseringan dengar al-Qur'an juga bisa jadi bosan apalagi surah yang seringkali dibaca dalam shalat. Lain cerita tentunya kalau orang sering dengerin al-Qur'an untuk mengharapkan pahala dan mengusir setan.

Mengenai Republika yang terancam gulung tikar, mungkin karena mismanagement dan isu-isu yang diangkat. Saya merasa sekarang Republika lebih "kanan" dan pasarnya lebih cocok ke segment tertentu saja dari umat Islam. Kalau di buat komparasi dari tulisan opini yang dimuat, Republik lebih banyak mengakomodasi kelompok Islamist yang apologetik. Sementara umat Islam skarang kan sudah melek pendidikan dan cita-rasanya sudah berubah, jadi lebih kosmopolit.

Terus terang dari segi informasi, saya sendiri lebih senang baca Kompas. Isinya tampak lebih objektif & imbang ditambah rubrik-rubriknya yang menarik dan berisi. Belum lagi kolom opininya yang berbobot dan tidak berbau dakwah seperti Republika. Namun demikian, kalau lagi kangen bahasa dakwah serta perkembangan umat Islam, saya membaca Republika. Hanya itu sayangnya, bahasa dan isi Republika sekarang lebih ekslusif dan propagandis dari sebelumnya. Saya kaget ketika menemukan tulisan orang-orang sekaliber Habib Riziq, Baasyir, dimuat di opini Republika. Apa corak Islam seperti ini yang mau diusung oleh Republika?

Kalau soal management, barangkali teman-teman yang terlibat di media dan penerbitan lebih faham.

Salam

--- On Sun, 7/6/08, salehmude wrote:

From: salehmude
Subject: [UIN-makassar] 2 contoh kasus umat
To: UIN-makassar@ yahoogroups. com
Date: Sunday, July 6, 2008, 4:28 PM



Ass teman2,
Saya ada 2 kesan ttg islam, mungkin ada peserta yg berkenan
menanggapinya?

Alquran dan puisi, tahun 2001 saya ikuti diskusi keislaman, di kantor
pp muhammadiyah jl menteng raya 56, katika itu ada penanya, seorang
aktivis, mengajukan pertanyaan ke prof syafii maarif. Sang penanya
mengaku sgt terkesan ketika mendengar taufik ismail membaca puisi,
termasuk syair2 lagu bimbo yang religius, penanya ini merasa lebih
terkesan daripada mendengar bacaan alquran. Syafii maarif dengan
suara lantang menjawab bhw puisi kalo lebih dua kali didengar, akan
bosan. Sang penanya kelihatan setengah puas dengan jawaban prof
syafii maarif.

Kesan kedua, koran republika kini terancam kolaps,bubar, alias
gulung tikar karena tidak byk umat membeli koran dan baca koran itu,
dan mungkin juga salah managemen, dan tdk umat (termasuk investor
asing) yang berduit mau beli sahamnya? Dulu tahun 1995 awal
terbitnya, saya termasuk pelanggan tetap republika. Ini koran islam
yang salah urus?
Terima kasih,

sm

Read More......

Sekolah Islam di Barat dilarang oleh Depag

Tanggapan saya dua;



1. Isi surat edaran Menag tsb, minimal dari yang tersurat, menganjurkan pilihan studi ke LN dikhususkan bagi jurusan-jurusan umum dan bukan lagi Islamic studies atau religious studies, karena diasumsikan selama ini bahwa untuk memerdalam ilmu keislaman selayaknya ke sumber aslinya yaitu di Timur Tengah. Sementara untuk jurusan umum (eksakta) lebih dianjurkan ke negara-negara Barat yang saat ini menjadi ikon kemajuan Iptek. Memang ini debatable tuk kita yang lulusan LN yg belajar Islamic studies, meskipun saya sdr dari jurusan antropologi tapi fieldstudinya ttg Islamic community, bahwa apakah ada jaminan mutu lulusan Timur Tengah lebih unggul dari segi teori dan metodologi dibanding mereka yang lulusan Barat. Tapi kalau memang yang diharapkan bahwa lulusan UIN/IAIN bisa lebih fokus ke pengembangan Iptek maka mengambil jurusan eksakta memang lebih pas. Ini artinya, cados dan dosen dari fakultas umum di UIN lebih berpeluang untuk studi ke LN (Barat) dibanding mereka dari fakultas agama. Sementara yg terakhir ini hanya boleh melanjutkan studinya ke Timur Tengah (LN juga khan).

Saat ini memang, koordinator jurusan Islamic studies di Barat sedang dikritik karena kurang punya kapasitas pada bidangnya misalnya dalam penguasaan bahasa Arab. Salah satu intelektual yang melontarkan kritik ini adalah DR. Michael Laffan (alumni ANU, yg sekarang jadi fellow researcher di Leiden, kalau tdk salah). Laffan pernah mengkritik misalnya pak Martin van Bruinessen, Direktur ISIM (kalau masih), yang katanya tdk menguasai bhs Arab tapi menjadi pengampu (koordinator/ supervisor) mahasiswa Islamic studies terutama dari Indonesia. Kalau di Australia mungkin DR. Greg Fealey yg menjadi koord. Islamic studies di ANU (mungkin supervisor bung Rijal juga). Sehingga ada kesan bahwa dosen-dosen Islamic studies ini hanya unggul dari segi metodologi dan analisis, tapi dari segi substansi lebih banyak belajar dari segi substansi ke mahasiswanya.



2. Dari yang tersirat, sebagaimana bacaan bung Rijal, ttg persoalan faktor agency, dan struktur dan apakah terjadi integrasi diantara keduanya, terbukti di dunia sosial tidak serigid dan sesolid yag terjadi di bidang teknologi. Kalau kita masih ingat teguran Thomas Kuhn (1969 ?) dalam bukunya "The Structure of Scientific Revolutioan" maka kita akan faham tentang hal ini. Kuhn menyatakan bahwa perubahan satu paradigma ke paradigma lain tidak tejadi secara akumulatif melainkan revolusioner bahkan mematikan. Tapi ini hanya berlaku dalam dunia teknologi, dan tdk pada social sciences (termasuk mungkin didalamnya Islamic studies). Yang terakhir ini bisa saja bersifat siklis atau hybrid antara satu paradigma dengan paradigma lain. Di lain waktu rasionalisme berkuasa, tapi pada saat lain konservatisme (dan mungkin fundamentalisme) dirangkul kembali, ataukah terjadi hybrid di antara keduanya. Ernest Gelner pernah menyebut ini dengan istilah Fundamentalisme Rasional.

Selain itu, sudah jamak kalau kebijakan yang lahir dari elit departemen jarang yang berbasis riset. Artinya, banyak hasil riset dari Litbang atau Puslit di perguruan tinggi tidak menjadi dasar pengambilan kebijakan di lingkungan departemen. Ada beberapa yg menjadi inspirasi kebijakan, tapi tidak semua apa yang direkomendasikan dari hasil penelitian dapat secara langsung “instant” diadopsi ke dalam kebijakan atau program pembanguanan sosial-keagamaan secara permanent. Ini dikarenakan sifat permasalahan sosial-keagamaan cepat berubah dengan karakteristik yang berbeda sesuai perkembangan masyarakat yang cepat pula. Hasil penelitian sosial-keagamaan memerlukan waktu untuk memperoleh legitimasi ilmiah. Sementara sebuah legitimasi ilmiah merupakan prasyarat dalam proses penelitian yang memiliki kualifikasi yang baik, agar konsep-konsep pemikiran, model dan pola pelayanan sosial keagamaan yang berkembang dari saran-rekomendasi penelitian tidak menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan kehidupan manusia.



Berbeda dengan hasil riset bidang teknologi, kebijakan bisa berubah dengan cepat. Kita ingat bagaimana telegram sangat mendominasi dunia informasi masa lalu. Tapi kini telpon yg ditemukan Graham Bell mengubah semuanya termasuk dalam hal relasi sosial manusia. Sekarang mungkin internet menjadi medium interaksi sosial seperti yang dilakukan oleh anggota milis UIN Makassar. Jadi kalau produk baru teknologi dari LN begitu menyihir para elit birokrat untuk segera dibeli (diadopsi) karena jelas penggunaan dan manfaatnya dan instant, dan tentunya menjadi rebutan pimpro proyek pengadaan ATK. Sementara produk baru dari LN dalam bentuk pemikiran sosial keagamaan bagi elit birokrat masih perlu ditimbang-ditimbang dulu, atau didiskusikan dampaknya bagi masyarakat, termasuk dampak kebijakan yang sedang diusung (status quo), dan ujung-ujungnya kemudian dilarang (mungkin melalui fatwa kalau perlu).



Sementara itu kawang2,



Wassalam,



Ad


--- On Sat, 6/21/08, Syamsul Rijal wrote:

From: Syamsul Rijal
Subject: Re: [UIN-makassar] Depag tutup belajar Islam di Barat
To: UIN-makassar@ yahoogroups. com
Date: Saturday, June 21, 2008, 9:57 AM


Kawan-kawan yang budiman,

Dari istilah "perang dingin" yang dilontarkan bang Wahyu, saya jadi teringat tulisan Pak Azra di Republika yang menanggapi balik logika Menag tentang pendirian UIN. Selama ini kan ada ketakutan dengan berdirinya UIN, maka jurusan agama akan tertinggal, seperti kasus UMI. Sampai-sampai pak Menag bilang (mengutip teman) "selama saya menjabat menag tidak akan lagi berdiri UIN" (cukup yang 5? UIN itu saja). Padahal, kampus saya IAIN Banjarmasin, IAIN tertua di kalimantan sudah ancang-ancang juga mau transformasi ke UIN. Tetapi terganjal dengan kebijakan Menag ini.

Menarik memakai konsep agency dan struktur dalam menjelaskan fenomena ini, seperti diurai bang Adlin. Dalam sejarah, pergulatan ide dan struktur selalu terjadi dan selamanya akan demikian. Dimasa Orba, sangat kelihatan bagaimana negara melanggengkan stuktur itu dengan hegemoninya. Hegemoni, ala Gramscy, tidak meniscayakan resistensi langsung dari bawah, tetapi malah approval terhadap ide yang diimpose secara halus dan masuk akal.

Dimasa sekarang ini, (dalam beberapa kasus walau sudah reformasi) kalau ada yang bawa ide baru/anti kemapanan (apalagi kalau alumni LN) akan dianggap aneh atau sebagai ancaman baru terhadap posisi orang lama. Bahkan, birokrat yang progressif pun mungkin akan akan mencurigai dan menghalangi orang progresif baru yang baru datang. Walau, seperti kata bang Adlin, petinggi lama itu dulunya adalah agen-agen yang menyuarakan perubahan. Susah memang kalau sudah memasuki area politik, yang sarat dengan interest itu. Amerika saja yang katanya demokratis malah mendukung dan memelihara otoritarianisme Saudi, sepanjang project US berjalan lancar disana.

Kalau melihat kasus pak Menag, barangkali peranan agency individualnya lebih dominan karena orang-orang progressif kan banyak di Depag. Malah selama ini (sebagaimana terlihat dari berbagai program depag) kan didominasi oleh arus progresif itu. Jadi kalau mau dibilang mau melanggengkan status quo Depag, barangkali kurang pas juga. Justru pak Menag ini mau melakukan perubahan baru dengan mengembalikan Depag ke Khittah-nya, atau "back to the Qur'an and Sunnah" seperti yang disuarakan kelompok reformis Muslim. Dengan kecenderungan Islamic piety dikalangan masyarakat kita sekarang ini, apa yang disuarakan pak Menag itu meniscayakan dukungan yang besar dari bawah.

Saya tidak tahu pasti apakah reformasi yang digagas pak menag ini purely religious ataukah sarat dengan 'political expediency'. Kalau dilihat backgroundnya, pak Maftuh ini berasal dari NU konservatif yang taat dan setia pada agamanya. Apa yang disuarakan pak Maftuh menemukan momentumnya saat ini, dikala dukungan ke Islamisme semakin menaik (See PPIM Survey). Dikala, masyarakat membutuhkan Islam sebagai solusi alternatif terhadap kondisi Indonesia yang tidak menentu. Pada titik tertentu, konservatisme Islam tradisional bisa berselingkuh dengan Islamisme.

Saya teringat ketika mulai bertugas di IAIN Antasari, kawan saya yang ditempatkan di Fakultas Ushuluddin diceramahi dulu oleh petinggi disana (yang notabene malah alumni ciputat) untuk "tidak mengajarkan Islam yang aneh-aneh ala Ciputat atau ala JIL". Menariknya di Banjar, bahkan di pasca sarjananya, mulai ada kecenderungan pemikiran Islam yang progressif akan dicurigai dan diidentikkan dengaan pemikiran JIL. Jadi kalau mau aman kata kawan, ngajarin dan omongin Islam yang biasa-biasa saja, atau tepatnya sesuai dengan selera Islam tradisional masyarakat Banjar. Dan para Habib/kyai disana (bersama dengan aktivis HTI), beramai-ramai mengutuk Islam yang "aneh-aneh" itu dan ini tentu saja kian memperkuat otoritas mereka sebagai pembela Islam di tengah masyarakat.

Salam damai,

Rijal

--- On Sat, 6/21/08, Adlin Sila wrote:

From: Adlin Sila
Subject: Re: [UIN-makassar] Depag tutup belajar Islam di Barat
To: UIN-makassar@ yahoogroups. com
Date: Saturday, June 21, 2008, 11:25 AM

Dear,



Pengalaman teman Din Wahid dari PPIM UIN Syarif dan Yasrul dari IAIN Padang ketika mengurus paspor untuk studi ke Belanda mengakali dengan tidak mencantumkan kata Islamic Studies atau Religious Studies dalam aplikasinya, tapi disesuaikan dengan Departemen yang membawahi jurusan yang dipilih, misalnya Antropologi. Taktik ini ternyata berhasil.



Kalau tuduhan Bung Rijal benar (karena dari bacaan saya tidak seperti itu, untuk sementara) bahwa kebijakan Depag ini adalah sebagai upaya untuk memotong ide-ide liberalisme atau pluralisme yang dibawa oleh lulusan IAIN/UIN dari LN agar tidak mengotori "kesucian" ajaran Islam, maka saya kira kebijakan depag ini adalah bagian dari kerja orang-orang struktur di Dep. Agama yang cenderung mempertahankan status quo (dalam bidang faham keagamaan misalnya). Ingat diskusi kita beberapa waktu yg lalu ttg "Sulsel dan Perayaan Kembali Feodalisme", yang saya kaitkan dengan strukturalisme, sebuah isme yang menganut paradigma order atau keteraturan. Tanggapan Bung Kustiwan juga sangat bagus untuk gejala ini bahwa karena elit struktur memperoleh kepuasan (satisfaction) dari exercizing power-nya maka mereka alergi dengan setiap perubahan, padahal dulunya (sebelum berkuasa) mereka adalah pembawa perubahan dalam hal ide-ide pembauran faham keagamaan.



Hal ini yang saya pikir belum kita diskusikan lebih jauh dalam milis ini, mengapa agency atau orang perorang selalu mengalah atau "dikalahkan" oleh ide-ide yang sudah mapan ketika mereka berada di lingkaran kekuasaan (power). Saya kira petinggi-petinggi Depag saat ini, dan beberapa waktu yg lalu, dihuni oleh keluaran-keluaran LN, atau Doktor2 dari UIN/IAIN yg berlatar belakang Islamic Studies yang tentunya sudah berfikiran maju dan progresif, tanpa menyebut semua nama tsb, tapi di antaranya adalah Dirjen Bimas Islam pak Nasaruddin, Bung Komar, (sekarang rektor UIN Syarif), Kabalitbang, pak Atho Mudzhar (bos saya sendiri) dsb.

Pertanyaannya, adakah (atau mungkinkah) integrasi antara agency dan struktur itu bisa berjalan? Kalau bisa, sejauhmana integrasi itu berjalan? Apakah terjadi evolusi (atau revolusi), hibrydasi, ataukah resistensi? Lalu sejauhmana derajat beberapa skenario tersebut bisa tergambarkan? Pertanyaan ini ditujukan bagi setiap orang, yang sedang berkuasa, yang belum dapat giliran, dan yang sudah dapat giliran, dan sekarang masih menunggu dapat giliran lagi, atau mereka yang alergi dengan kekuasaan karena sudah muak denganitu semua.



Wassalam,



Adlin

--- On Fri, 6/20/08, Wahyuddin Halim wrote:

From: Wahyuddin Halim
Subject: Re: [UIN-makassar] Depag tutup belajar Islam di Barat
To: UIN-makassar@ yahoogroups. com
Date: Friday, June 20, 2008, 5:05 PM

Kawans yg budiman,

Jika edaran dirjen PI yg diposting Ijal sebelumnya bisa diconfirmed, saya kira depag benar2 sudah kurang kerjaan. Kalau maksudnya untuk mencegah semakin banyaknya alumni Barat dari kalangan PTAIN yang berpikiran "aneh2" spt dikatakan Ijal. Masa org2 bisa dengan mudah dilarang ambil bidang yg sesuai dengan bidang akademik yang digeluti selama ini lalu dikasih syarat yg gak akademik, jika mau ke Barat harus ambil bidang lain yang bukan Islamic Studies. Apa indikator bahwa sejauh ini dosen Islamic Studies luaan Barat di PTAIN sudah "cukup banyak".

Kebijakan ini kayaknya mirip2 fatwa MUI yang melarang libralisme, pluralisme dll. Bedanya, Depag menggunakan kekuasaan struktural. Atau jangan2 ini sebagian buah dari "perang dingin" antara Depag dengan UIN Jakarta khususnya... hehe... Depag dan MUI tampakya semakin memposisikan diri sebagai "pembela Islam", pelindung umat spt FPI..hehehe

Kak AFB mungkin bisa memberikan analisisnya. Kalau melihat hasil scannya, surat edaran tsb tampaknya benar. Senin depan saya akan tanyakan ke pak Rektor atau PR-nya, mungkin PR IV juga bisa memberi tanggapan, boleh jadi tahu latar belakangnya. .

Salam





--- On Fri, 6/20/08, Syamsul Rijal wrote:

From: Syamsul Rijal
Subject: Re: [UIN-makassar] Depag tutup belajar Islam di Barat
To: UIN-makassar@ yahoogroups. com
Date: Friday, June 20, 2008, 8:02 PM

Dear kawans,

Maaf lupa untuk beritahu kalau saya belum bertabayun/mengklar ifikasi apakah surat edaran ini benar apa tidak. Jadi mohon maaf kalau komentar saya kurang berkenan.

Salam

Rijal

--- On Fri, 6/20/08, Syamsul Rijal wrote:

From: Syamsul Rijal
Subject: [UIN-makassar] Depag tutup belajar Islam di Barat
To: uin-makassar@ yahoogroups. com
Date: Friday, June 20, 2008, 7:53 PM


Dear kawans,

ada postingan hangat nih. Menteri Agama sudah memberikan instruksi kepada bawahannya untuk mengedarkan SURAT EDARAN menghentikan pengiriman mahasiswa belajar islam di Barat, termasuk di dalamnya australia.

Logikanya keliru nih, padahal dosen UIN/IAIN yg keluar negeri tuh ngambil jurusan umum kok bukan Islamic studies heheh...Seperti memet misalnya yg ngambil jurusan education hehe. Sepertinya Menag kuatir kalau alumni Barat itu ngajarin Islam yang "aneh-aneh" di kampus Islam.
Alasannya kayaknya dibuat-buat nih, mosok alumni Islamic Studies dah banyak. Yahh namanya aja IAIN/STAIN, pasti dosen Islamic studiesnya banyak dong.

Aduh aya-aya wae pak menteri.

Salam,

Rijal







__._,_.___
Messages in this topic (6) Reply (via web post) | Start a new topic
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar
MARKETPLACE
Blockbuster is giving away a free trial of Blockbuster Total Access to smart movie lovers like you.
Yahoo! Groups
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Recent Activity

*
1
New Members

Visit Your Group
Yahoo! Groups

Latest product news

Join Mod. Central

stay connected.
10 Day Club

on Yahoo! Groups

Share the benefits

of a high fiber diet.
Search Ads

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.
.

__,_._,___
Go to Previous message | Go to Next message | Back to Messages
ASCII (ASCII)Greek (ISO-8859-7)Greek (Windows-1253)Latin-10 (ISO-8859-16)Latin-3 (ISO-8859-3)Latin-6 (ISO-8859-10)Latin-7 (ISO-8859-13)Latin-8 (ISO-8859-14)Latin-9 (ISO-8859-15)W. European (850)W. European (CP858)W. European (HPROMAN8)W. European (MACROMAN8)W. European (Windows-1252)Armenia (ARMSCII-8)Baltic Rim (ISO-8859-4)Baltic Rim (WINDOWS-1257)Cyrillic (866)Cyrillic (ISO-8859-5)Cyrillic (KOI8-R)Cyrillic (KOI8-RU)Cyrillic (KOI8-T)Cyrillic (KOI8-U)Cyrillic (WINDOWS-1251)Latin-2 (852)Latin-2 (ISO-8859-2)Latin-2 (WINDOWS-1250)Turkish (ISO-8859-9)Turkish (WINDOWS-1254)Arabic (ISO-8859-6, ASMO-708)Arabic (WINDOWS-1256)Hebrew (856)Hebrew (862)Hebrew (WINDOWS-1255)Chinese Simplified (GB-2312-80)Chinese Simplified (GB18030)Chinese Simplified (HZ-GB-2312)Chinese Simplified (ISO-2022-CN)Chinese Simplified (WINDOWS-936)Chinese Trad.-Hong Kong (BIG5-HKSCS)Chinese Traditional (BIG5)Chinese Traditional (EUC-TW)Japanese (SHIFT_JIS)Japanese (EUC-JP)Japanese (ISO-2022-JP)Korean (ISO-2022-KR)Korean (EUC-KR)Thai (TIS-620-2533)Thai (WINDOWS-874)Vietnamese (TCVN-5712)Vietnamese (VISCII)Vietnamese (WINDOWS-1258)Unicode (UTF-7)Unicode (UTF-8)Unicode (UTF-16)Unicode (UTF-32)
| Full Headers
Search Mail

Copyright © 1994-2008 Yahoo! Inc. All rights reserved. Terms of Service - Copyright/IP Policy - Guidelines
NOTICE: We collect personal information on this site.
To learn more about how we use your information, see our Privacy Policy

Read More......



Read More......

Kamis, 03 Juli 2008

Tes Posting

tes postingtes posting

tes posting tes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes postingtes posting

Read More......