Sabtu, 12 Juli 2008

Republika yang lg oleng, dan mau karam

Saya sementara ini lagi berlangganan dgn Republika karena butuh data yg banyak ttg laporan perkembangan bank syariah di Indonesia yg memang Republika punya kolom khusus untuk itu. Jadi bukan karena fanatisme buta ingin memajukan koran "Islam" ini dgn terus berlangganan, tapi lebih kepada alasan teknis semata (bahan untk disertasi cess). Berita ttg bank Islam bisa pula ditemui di koran lain, Kompas misalnya, tapi liputannya sangat dangkal dgn ukuran kolom yg sangat kecil dan berada di halaman yg ke sekian. Isi beritanya pun terkadang lebih merujuk kepada kegagalannnya dibanding kesuksesannya. Saya tidak punya banyak data ttg apakah karena Kompas itu korannya orang nasrani (Katolik) sehingga liputannya ttg dunia Islam dan perkembangan kaum Muslim Indo dan dunia agak kurang gregetnya. Yang jelas kalau saya ingin data ttg bagaimana sejarah keemasan masa lalu Islam melalui ilmuwan-ilmuwannya yg menggegerkan dunia, tausiyah-tausiyah yang menyejukkan dari orang-orang bijak dan resonansi Azyumardi Azra ttg perkembangan dunia Islam masa kini, maka Republikalah tempatnya. Sesuatu yg tdk mungkin saya dapatkan di koran lain. Tentunya pembacaan saya melalui proses filter dan tafsir ulang sesuai dgn hasil bacaan saya juga. Seorang Doktor di UI namanya Ibnu Hamad, pernah melakukan studi komparasi dgn analisis wacana terhadap isi koran the Washington Post dengan New York Times. Salah satu temuannya adalah kedua koran tsb berbeda dalam hal membuat tajuk, headline, posisi foto di halaman muka, dan menyebutkan jumlah korban pd sebuah peristiwa. Salah satu sebabnya, kata Ibnu Hamad ini karena perbedaan ideologi yg melatari kedua koran tsb. Dari hasil temuan riset ini, kita jadi teringat bagaimana pemberitaan 11 Sept, dgn ambruknya The World Trade Centre dilakukan secara tdk bertanggungjawab oleh CNN dgn mengkorelasikan peristiwa tersebut dgn pesta jalanan di salah satu jalan di Kota Palestina. Seakan-akan pemboman gedung kembar di Amerika tsb didukung dgn gegap gempita oleh rakyat Muslim Palestina. Padahal belakangan gambar pesta jalanan itu adalah hasil rekayasa. Bagusnya, ini kemudian diakui oleh redaksi CNN sebagai sebuah kesalahan dan meminta maaf kepada warga Palestina. Secara teoritis, Michael Foucalt, yg digunakan konsepnya oleh Edward Said ketika menulis Orientalism, mengingatkan kita semua bahwa teks itu tdk berdiri sendiri tapi terdapat sebuah ideologi yg berada dibelakangnya. Artinya lahirnya sebuah teks itu tidak berada pada ruang dan waktu yg hampa.
Tapi ulasan saya ini mungkin terlalu jauh untuk menganalogkan Kompas dgn Republika, diperlukan studi lbh mendalam untuk ini. Untuk saat ini, marilah kita tetap menganggap Kompas, misalnya, sebagai koran nasional yang berada diatas semua kelompok, minimal dalam pemberitaannya ttg masalah nasional.
Mengenai pengalaman bung Wahyu yg lebih banyak tdk enaknya dibanding enaknya ketika berlanggann dgn Republika, kerap juga saya alami. Tapi itu tadi, saya masih lebih banyak butuhnya dibanding tdknya dgn Republika. Lagi pula, saya terkesan dengan pendapat salah satu tokoh Islam yg ketika mendengarkan keluhan saya terhadap Republika ini dia berujar bahwa kalau memang saya punya ide yg brilian ttg bagaimana media yg bagus maka sebaiknya anda bergabung dgn media itu, rebut pemegang saham mayoritasnya dan posisi pemrednya setelah itu buktikan bagaimana memenej sebuah media secara profesional. "Sekolahlah jurnalistik ke luar negeri dan ketika pulang bergabung lah dengan media Islam, dan majukan media Islam". Seruan salah satu tokoh Islam, yg tdk perlu sy sebutkan namanya ini, adalah lazim dalam kelompok agama manapun, yaitu sebuah fanatisme dan militansi dalam membela kelompoknya. Hal yg sama pula terdapat pada salah satu prinsip klasik dalam politik yaitu: "right or wrong is my party".Tidak peduli apa kata orang ttg party (kelompok) saya, yg penting di hati saya tetap satu, Islam.
Selain itu, Dakwah memang sifatnya menyeru orang untuk datang, itu mungkin terjemahan bebasnya. Tidak peduli apakah orang itu senang atau tdk dgn seruan tsb. Apakah dgn pakai speaker orang yg lagi mau tidur subuh terganggu, peduli amat, yg penting perintah agama untuk membangunkan orang yg lg tidur sdh dijalankan (tentunya ini tafsir literal). Sama halnya dgn misi zending dlm Kristen, hal yg sama saya sering alami ketika menetap di Canberra, kadang tdk kenal waktu dan tempat, para misionaris dari sebuah sekte dgn tdk kenal lelah menggunakan segala cara untuk membujuk saya datang ke kebaktian gerejanya. Karena tdk berhasil, mereka lalu mengumpat dan mengejek-ngejek agama saya sebagai agama barbar dan tdk peduli pada orang miskin. Tapi itu saya tanggapi dgn dingin, karena saya anggap itulah kira2 karakter orang yg bergelut di dunia misi (dakwah dlm istilah kita). Di dalam agama kita memang banyak kelompok-kelompok dakwah dari yg lunak misalnya Jama'ah Tabigh, sampai yg sangat kasar seperti FPI, misalnya. Tapi itu tadi, karakter dan bawaannya memang begitu, cenderung dogmatis, hitam putih, tdk ada kompromi, karena mereka yakin kalau yg mereka perjuangkan adalah perintah Allah, dan jika perjuangan mereka di dunia tdk berhasil, Allah sudah menjanjikan surga kelak di Akhirat.
Tentunya hasil analisa saya ini masih dalam kerangka hasil temuan sementara saya dalam beberapa kali melakukan penelitian ttg kelompok Islam di Indonesia. Tafsir ttg Kitab Suci dan tipe pergerakan mereka dalam membawa nama Islam memang terkadang tdk bisa diterima oleh "kita" yg sering dikelompokkan akademisi, yg sering bergelut dgn tulisan, berdiskusi, berseminar, berwacana dsb. Apalagi saat ini memang pengkategorian ummat Islam sudah sangat simplistis; mereka yg memperjuangkan penerapan syariat Islam (apakah itu politik, dsb) cenderung dicap fundamentalist, sedangkan mereka yg hanya menerima sistem demokrasi liberal tanpa embel-embel Islam buru-buru dituduh Islam Liberal. Sehingga ketika kedua kelompok ini beraksi, maka hadirin sudah mafhum adanya. Kedua kategori Islam ini juga sudah punya jargon masing-masing dan sudah sulit untuk dipersatukan, ketika bertemu pun lebih banyak jalan buntunya. Bagi saya, keduanya juga seakan-akan sudah keluar dari akar tradisi keagamaannya masing-masing (Baca posting bung Wahyu ttg wawancara Ulil yg merasakan tafsir agamannya sudah beyond ke NU-annya). Intinya, kedua kelompok ini sudah melewati konflik antara NU Muhammadiyah di masa pergerakan. Bung Rijal dan teman2 yg lagi studi di LN saat ini, terutama yg mengambil topik ttg gerakan Islam kontemporer, kita tunggu studi anda semua dalam membaca ini. Maaf kepanjangan dan kemana2.

Adlin


--- On Sun, 7/6/08, Wahyuddin Halim wrote:

From: Wahyuddin Halim
Subject: Re: [UIN-makassar] 2 contoh kasus umat
To: UIN-makassar@ yahoogroups. com
Date: Sunday, July 6, 2008, 4:49 PM

Bung Saleh dan Rijal,

Di Indonesia, di antara alasan pengurus masjid mengeraskan dan menggelegarkan soundsystem masjid mereka dengan qiraah dan tilawah Qur'an adalah supaya orang-orang yang malas pergi salat jamaah ke masjid bisa tergugah hatinya atau orang-orang non-Muslim yang tinggal di sekitar masjid bisa terkesima dengan bacaan Qur'an lalu, seperti Umar bin Khattab, masuk Islam karenanya. Tentang ini saya pernah menulis sebuah opini di sebuah koran lokal bertajuk, "Masjid yang Mengusik Ramadhan Itu".

Saya katakan bahwa tujuan seperti itu sulit tercapai karena, berbeda dengan Umar yang orang 'Arab dan sangat mengerti kompleksitas dan keindahan bahasa Arab, sangat sedikit orang Indonesia bisa mengerti bahasa Arab dan mampu mengapresiasi nilai estetik dan kesusastraan Qur'an. Malah, lanjut saya, orang2 Muslim dan non-Muslim bisa saja malah semakin membenci masjid karena dalam 5 waktu dalam 24 jam, mereka akan terganggu "nyanyian" aneh yang memekakkan telinga mereka, apalagi jika lagu2 dari qari'/'ah yg disetel masjid tidak begitu menarik dan membosankan karena tidak ada variasi, misalnya Abdurrahman al-Sudaysi, Imam Masjid Haram itu.

Dalam tulisan itu, saya malah mengusulkan agar, selama kerja bakti di hari Minggu, para pengurus masjid tidak hanya menyetel tilawah Quran dan nasid2 dari Haddad Alwi/Sulis, tapi juga musik-musik universal yang lebih menenangkan jiwa orang2 tanpa memandang agama mereka, misalnya: musik2 klasik zaman barok gubahan Mozart, Beethoven, Bach, Vivaldi, dll, atau instrumental spt Kitaro, Kenny G, dsj. Jadi, barangkali, aspek kemukjizatan Al-Quran dari segi keindahan sastrawi bahasa Arabnya harus dipandang hanya efektif dlm konteks masyarakat pengguna bahasa Arab (khususnya dalam masyarakat di jazirah Arabia di zaman menjelang dan saat kenabian Muhammad saw, ketika dunia kepenyairan Arab merefleksikan ketinggian pencapaiannya, saat ketika setiap tantangan terhadapnya merupakan sebuah keajaiban). Tapi, dalam sebuah zaman yang ditandai dengan keajaiban2 capaian ilmu pengetahuan dan teknologi, yang akan dipandang mukjizati dari Al-Quran mungkin adalah pesan-pesannya yang menyemangati umat manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan atau "tafsir" atas ayat-ayatnya yang mengkonfirmasi kebenaran2 ilmiah mutakhir atau bahkan mengantisipasi kebenaran teoritis ilmu pengetahuan. Ini bisa diperluas hingga ke konteks keunggulan pencapaian zaman2 yang berbeda, di mana Al-Quran selalu bisa menjadi "penantang" dan pengimbang bagi capaian2 itu: filsafat, etika, resep2 praktis kehidupan/how- to, teori2 kesehatan, ramalan2, dll.

Tentang Republika, selain alasan2 yang dikemukakan Ijal di bawah (variasi rubrik, variasi paradigma keislaman, dll), saya juga melanggani versi cetak Kompas sejauh ini karena managemen distribusinya yang lancar. Mungkin karena memang sudah menggunakan sistem cetak jarak jauh, sehingga sebelum jam 6 pagi, koran tsb sdh tergeletak di teras rumah saya. Sementara pengalaman saya berlangganan Republika sekitar 7 tahunan lalu lebih banyak menjengkelkan dalam hal distribusi ini

Selain itu, kreativitas dan profesionalisme redaksional Republika juga seringkali payah, banyak tulisan yang sekedar disadur dari ensiklopedi, buku, majalah, dsb. Liputannya juga kadang2 lebih sering tentang soal2 dunia Islam yang tidak begitu berkaitan dengan kita, sementara isu2 keislaman lokal jarang diliput. Tokoh2 Muslim abad pertengahan Islam lebih sering menonjol profilnya ketimbang tokoh2 Muslim nusantara, padahal kedua2nya kita perlukan.

Nah, Kompas? Saya kira membaca Kompas hampir sama dengan membaca sebuah buku setebal 100 halaman per hari. Ruang opininya saja sampai 4 halaman penuh, kadang lebih dg rubrik2 yang berbeda. Belum lagi edisi pustaka teroka yang rata2 dua halaman. Tentang fakta bahwa Kompas milik non-Muslim saya kira itu bukan masalah sama sekali. Nabi tidak pernah menganjurkan seorang Muslim hanya bertransaksi secara ekonomi dengan sesama Muslim bukan? Bahkan dalam hal mencari ilmu, kita dianjurkan bahkan melanglang ke negeri Cina.

Persoalannya di sini, siapa yang Islami dan tidak Islami. Trust, amanah, adalah nilai etika Islam yang sangat penting dijaga dlm transaksi ekonomi. Nah, kita tentu seringkali kecewa dengan tingkat trust yang sangat rendah orang2 Muslim yang menjadi mitra dagang kita, bukan? Jadi dari segitu itu saja, banyak orang Muslim yang tidak "Islami".

Begitu juga dalam hal pemberitaan, media2 yang mengklaim diri Media Muslim/Islam seringkali mengekploitasi isu-isu yang sebenarnya tidak faktual, tidak berdasar, tapi sekedar gossip murahan atau zhann, malah seringkali fitnah. Redaktur2nya tampak malas sekali melakukan investigasi yang mendalam dan berimbang sebelum memuat sebuah berita atau liputan utama. Nah, benar perusahan2 media itu memang milik orang Muslim, tapi ia tidak merefleksikan nilai-nilai Islam yang substantif (hanya simbolik) dan cenderung tidak mencerdaskan (lebih sering memancing amarah terhadap kelompok lain). Jadi, kematian Republika, kalau pun itu terjadi dan harus ditangisi tidak perlu sampai meraung-raung.

Kira2 begitu yang terlintas dalam benar....

Salam dari Bukit Tinggimae,
WH









--- On Sun, 7/6/08, Syamsul Rijal wrote:

From: Syamsul Rijal
Subject: Re: [UIN-makassar] 2 contoh kasus umat
To: UIN-makassar@ yahoogroups. com
Date: Sunday, July 6, 2008, 5:23 PM


Bang Shaleh,

Kalau dengar puisi dan lagu religius (apalagi berbahasa Indonesia) tentu lebih enak dan bisa lebih difahami ketimbang al-Qur'an yang berbahasa Arab. Toh juga pesan-pesan dari lagu dan puisi tersebut diserap dari al-Qur'an. Kalau anak sastra arab dan jebolan pesantren mungkin lebih senang barangkali al-Qur'an hehe. Pernyataan Syafii Maarif juga bisa dibalik, kalau keseringan dengar al-Qur'an juga bisa jadi bosan apalagi surah yang seringkali dibaca dalam shalat. Lain cerita tentunya kalau orang sering dengerin al-Qur'an untuk mengharapkan pahala dan mengusir setan.

Mengenai Republika yang terancam gulung tikar, mungkin karena mismanagement dan isu-isu yang diangkat. Saya merasa sekarang Republika lebih "kanan" dan pasarnya lebih cocok ke segment tertentu saja dari umat Islam. Kalau di buat komparasi dari tulisan opini yang dimuat, Republik lebih banyak mengakomodasi kelompok Islamist yang apologetik. Sementara umat Islam skarang kan sudah melek pendidikan dan cita-rasanya sudah berubah, jadi lebih kosmopolit.

Terus terang dari segi informasi, saya sendiri lebih senang baca Kompas. Isinya tampak lebih objektif & imbang ditambah rubrik-rubriknya yang menarik dan berisi. Belum lagi kolom opininya yang berbobot dan tidak berbau dakwah seperti Republika. Namun demikian, kalau lagi kangen bahasa dakwah serta perkembangan umat Islam, saya membaca Republika. Hanya itu sayangnya, bahasa dan isi Republika sekarang lebih ekslusif dan propagandis dari sebelumnya. Saya kaget ketika menemukan tulisan orang-orang sekaliber Habib Riziq, Baasyir, dimuat di opini Republika. Apa corak Islam seperti ini yang mau diusung oleh Republika?

Kalau soal management, barangkali teman-teman yang terlibat di media dan penerbitan lebih faham.

Salam

--- On Sun, 7/6/08, salehmude wrote:

From: salehmude
Subject: [UIN-makassar] 2 contoh kasus umat
To: UIN-makassar@ yahoogroups. com
Date: Sunday, July 6, 2008, 4:28 PM



Ass teman2,
Saya ada 2 kesan ttg islam, mungkin ada peserta yg berkenan
menanggapinya?

Alquran dan puisi, tahun 2001 saya ikuti diskusi keislaman, di kantor
pp muhammadiyah jl menteng raya 56, katika itu ada penanya, seorang
aktivis, mengajukan pertanyaan ke prof syafii maarif. Sang penanya
mengaku sgt terkesan ketika mendengar taufik ismail membaca puisi,
termasuk syair2 lagu bimbo yang religius, penanya ini merasa lebih
terkesan daripada mendengar bacaan alquran. Syafii maarif dengan
suara lantang menjawab bhw puisi kalo lebih dua kali didengar, akan
bosan. Sang penanya kelihatan setengah puas dengan jawaban prof
syafii maarif.

Kesan kedua, koran republika kini terancam kolaps,bubar, alias
gulung tikar karena tidak byk umat membeli koran dan baca koran itu,
dan mungkin juga salah managemen, dan tdk umat (termasuk investor
asing) yang berduit mau beli sahamnya? Dulu tahun 1995 awal
terbitnya, saya termasuk pelanggan tetap republika. Ini koran islam
yang salah urus?
Terima kasih,

sm

0 komentar: